Kamis, 15 November 2012

Wisata Di Situs Makam Raja Mekongga Sangia Nibandera


KOLAKA-Pena Engineer. Bagi anda yang ingin berwisata sehari di daerah dengan julukan Wonua Sorume, Kolaka menawarkan berbagai petualangan wisata yang seru yang bisa dinikmati sendiri ataupun secara bersama-sama dengan keluarga atau kerabat. Salah satunya adalah Situs Makam Raja Mekongga.

Bagi anda yang ingin mengetahui sekelumit sejarah Kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah Kolaka, pilihan yang tepat adalah dengan mengunjungi situs Makam Raja Mekongga, Sangia Nibandera. Letaknya tidak jauh dari Kota Kolaka. Dengan Jarak tempuh sekitar 15 km dari kota Kolaka, atau 20 menit waktu tempuh dari kota tersebut, anda sudah sampai di lokasi situs.

Situs yang diperkirakan telah berumur sekitar ± 300 tahun ini, berada di desa Tikonu Kecamatan Wundulako. Di lokasi Situs, anda akan bertemu dengan seorang juru kunci makam yang akan mengantar dan menjadi guide anda selama mengunjungi situs ini.

Berada di lokasi makam, udara sejuk dan hawa dingin dari kerindangan beberapa pohon-pohon besar yang berdiri tegak menjulang setinggi 30 meter membuat aura mistik terasa dalam lokasi seluas ± 2 ha tersebut. Sesekali beberapa ranting pohon yang rapuh terjatuh, sehingga menambah suasana mistik semakin terasa, apalagi ditambah beberapa cerita-cerita dari sang guide tentang beberapa pengunjung yang mendapat semacam teguran karena tidak berprilaku sopan dalam situs. ”Datang kesini harus dengan niat yang baik, tidak boleh kurang ajar, kalau niatnya jelek biasa dapat teguran, pernah ada anak SMA yang kemasukan karena dia hanya datang pacaran, ” kata Muh. Jabar, juru kunci makam yang ditemui beberapa waktu lalu.

Jadi selain harus berhati-hati dari jatuhnya beberapa ranting  pohon yang memang sudah berumur tua, pengunjung juga harus berprilaku sopan dalam situs yang dikeramatkan ini. Namun tidak perlu takut mengunjungi makam ini, karena dengan guide yang ramah, anda juga bisa menikmati suasana seolah berada di taman yang indah. Berbagai kembang bunga dan tanaman hias, tertata rapi di sepanjang jalan setapak menuju makam. Semilir angin  sepoi-sepoi dengan gemercik suara dari sungai kecil ketika melewati jembatan setapak menuju situs makam utama, menambah keelokan suasana situs bersejarah ini. Kicauan berbagai jenis spesies burung juga semakin membuat suasana merasa berirama lestari.

Di dalam situs ini, terdapat Makam sang Raja Mekongga yang diapit oleh dua makam yang konon adalah makam dari kedua istrinya atau permaisuri. Raja Mekongga yang dikebumikan di tempat ini adalah Sangia Nibandera. Menurut penuturan dari keturunan raja, Nursaenab Lowa, Sangia Nibandera memiliki beberapa nama. “Saat baru lahir, beliau diberi nama Kinokori, saat menjelang dewasa beliau diberi nama Lelemala, yang  berarti dipundak, karena beliau selalu diangkat di atas pundak,” Kata Nursaenab.

Nursaenab juga menuturkan bahwa Beliau merupakan raja Mekongga yang pertama memeluk Islam dan mengembangkannya di Kolaka. Saat memeluk Islam beliau di beri nama Laduma, yang bermakna nama “hari jumat”, hari dimana umat Islam laki-laki yang melakukan shalat Jumat berjamaah. Sedangkan Sangia Nibandera adalah gelar beliau dikarenakan membawa sebuah bendera merah putih yang didalamnya bertuliskkan beberapa huruf  Alquran dan beberapa corak gambar binatang usai pulang dari medan perang. “Bendera itu adalah hadiah dari Kerajaan Luwu, karena bantuan Raja Mekongga dan Tamalaki (red: panglima perang) serta bala tentaranya  sehingga kerajaan Luwu memenangkan perang melawan musuhnya. Hingga Kini Bendera tersebut masih tersimpan dengan baik,” Ungkap Nursaenab.

Untuk memasuki kompleks makam sang raja, pengunjung terlebih dahulu harus meminta ijin kepada sang guru kunci. Tidak ada ritual khusus memasuki makam ini, pengunjung cukup mengikuti sang juru kunci. Di atas makam Sang Raja, sebuah nisan batu setinggi ±50 cm masih tegak berdiri diatas gundukan tanah makam. Dua pohon kapuk hutan yang diperkirakan seumur dengan makam sang raja, tumbuh menjulang tinggi di atas makam. Dengan ribuan akar-akarnya yang menyelimuti gundukan tanah makam, menjadi saksi bisu sejarah dari keberadaan makam sang raja yang terkenal ini.

Di bagian Utara Makam Sang Raja, juga terdapat sebuah guci setinggi + 40 cm. Sayangnya kita tidak bisa melihat secara utuh corak dan motif serta bentuk keselurahan guci. Guci logam yang menurut juru kunci berbahan emas tersebut telah dilekatkan dengan lantai beton yang hampir menutupi keseluruhan badan guci. Kabarnya guci tersebut pernah dicuri oleh para pemburu barang antik, namun berkat usaha dari keturunan sang raja guci tersebut dikembalikan ke tempatnya di samping kuburan raja.

Menurut cerita dari sang juru kunci air dalam Guci tersebut tidak pernah kering di musim kemarau dan sebaliknya jika di musim penghujan, guci tersebut tidak berair. Menurutnya juga air guci dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Jika beruntung, pengunjung dapat meminta air guci kepada sang juru kunci.

Menurut sejarahnya, guci tersebut sebenarnya lebih tua dari makam sang raja. Konon leluhur raja Sangia Nibandera yang belum memeluk islam yaitu Sangia Nilulo, jasadnya di semayamkan dalam arwah tersebut setelah melewati suatu proses penguburan yang disebut duni. “Jadi Islam memang membawa rahmat bagi kita masayarakat Mekongga, karena seandainya raja Sangia Nibandera kita tidak memeluk Islam, niscaya kita tidak akan menikmati situs makam yang bersejarah ini, karena raja-raja sebelumnya tidak dikebumikan, namun di duni, itulah mengapa tidak ditemukannya makam-makam dari beberapa raja Mekongga sebelumnya.”Kata Nursaenab.

Dari penuturan juru kunci, makam ini ramai di kunjungi disaat hari-hari besar agama Isalm. Tak sedikit dari mereka sengaja datang untuk berziarah sambil berdoa agar hajatannya dikabulkan. “Biasa ramai saat bulan puasa dan lebaran, ada juga yang sengaja datang untuk sekedar berziarah, bahkan ada yang datang supaya hajatannya terkabul, contohnya para calon gubernur atau juga calon bupati ,” Ujar Jabar, sang juru kunci yang sudah bertugas sejak 2008 lalu.

Usai berkeliling di kompleks makam, seharian pengunjung dapat bersantai dengan duduk di bangku-bangku panjang yang tersedia di beberapa sudut lokasi situs. Terkadang dibeberapa waktu, pengunjung juga dapat menikmati sajian beberapa tarian tradisional yang khas dari daerah ini yang dipentaskan oleh kelompok sanggar tari setempat di atas panggung mini yang ada dalam lokasi situs.(M.Sf/www.kolakanews.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar