Bagi anda yang ingin mengetahui sekelumit sejarah Kerajaan yang
pernah berkuasa di wilayah Kolaka, pilihan yang tepat adalah
dengan mengunjungi situs Makam Raja Mekongga, Sangia Nibandera.
Letaknya tidak jauh dari Kota Kolaka. Dengan Jarak tempuh sekitar 15 km
dari kota Kolaka, atau 20 menit waktu tempuh dari kota tersebut, anda
sudah sampai di lokasi situs.
Situs yang diperkirakan telah berumur sekitar ± 300 tahun ini,
berada di desa Tikonu Kecamatan Wundulako. Di lokasi Situs, anda akan
bertemu dengan seorang juru kunci makam yang akan mengantar dan menjadi
guide anda selama mengunjungi situs ini.
Berada di lokasi makam, udara sejuk dan hawa dingin dari
kerindangan beberapa pohon-pohon besar yang berdiri tegak menjulang
setinggi 30 meter membuat aura mistik terasa dalam lokasi seluas ± 2 ha
tersebut. Sesekali beberapa ranting pohon yang rapuh terjatuh, sehingga
menambah suasana mistik semakin terasa, apalagi ditambah beberapa
cerita-cerita dari sang guide tentang beberapa pengunjung yang mendapat
semacam teguran karena tidak berprilaku sopan dalam situs. ”Datang
kesini harus dengan niat yang baik, tidak boleh kurang ajar, kalau
niatnya jelek biasa dapat teguran, pernah ada anak SMA yang kemasukan
karena dia hanya datang pacaran, ” kata Muh. Jabar, juru kunci makam
yang ditemui beberapa waktu lalu.
Jadi selain harus berhati-hati dari jatuhnya beberapa ranting
pohon yang memang sudah berumur tua, pengunjung juga harus berprilaku
sopan dalam situs yang dikeramatkan ini. Namun tidak perlu takut
mengunjungi makam ini, karena dengan guide yang ramah, anda juga bisa
menikmati suasana seolah berada di taman yang indah. Berbagai kembang
bunga dan tanaman hias, tertata rapi di sepanjang jalan setapak menuju
makam. Semilir angin sepoi-sepoi dengan gemercik suara dari sungai
kecil ketika melewati jembatan setapak menuju situs makam utama,
menambah keelokan suasana situs bersejarah ini. Kicauan berbagai jenis
spesies burung juga semakin membuat suasana merasa berirama lestari.
Di dalam situs ini, terdapat Makam sang Raja Mekongga yang diapit
oleh dua makam yang konon adalah makam dari kedua istrinya atau
permaisuri. Raja Mekongga yang dikebumikan di tempat ini adalah Sangia
Nibandera. Menurut penuturan dari keturunan raja, Nursaenab Lowa, Sangia
Nibandera memiliki beberapa nama. “Saat baru lahir, beliau diberi nama
Kinokori, saat menjelang dewasa beliau diberi nama Lelemala, yang
berarti dipundak, karena beliau selalu diangkat di atas pundak,” Kata
Nursaenab.
Nursaenab juga menuturkan bahwa Beliau merupakan raja Mekongga
yang pertama memeluk Islam dan mengembangkannya di Kolaka. Saat
memeluk Islam beliau di beri nama Laduma, yang bermakna nama “hari
jumat”, hari dimana umat Islam laki-laki yang melakukan shalat
Jumat berjamaah. Sedangkan Sangia Nibandera adalah gelar beliau
dikarenakan membawa sebuah bendera merah putih yang didalamnya
bertuliskkan beberapa huruf Alquran dan beberapa corak gambar binatang
usai pulang dari medan perang. “Bendera itu adalah hadiah dari Kerajaan
Luwu, karena bantuan Raja Mekongga dan Tamalaki (red: panglima perang)
serta bala tentaranya sehingga kerajaan Luwu memenangkan perang
melawan musuhnya. Hingga Kini Bendera tersebut masih tersimpan dengan
baik,” Ungkap Nursaenab.
Untuk memasuki kompleks makam sang raja, pengunjung terlebih
dahulu harus meminta ijin kepada sang guru kunci. Tidak ada ritual
khusus memasuki makam ini, pengunjung cukup mengikuti sang juru kunci.
Di atas makam Sang Raja, sebuah nisan batu setinggi ±50 cm masih
tegak berdiri diatas gundukan tanah makam. Dua pohon kapuk hutan
yang diperkirakan seumur dengan makam sang raja, tumbuh menjulang tinggi
di atas makam. Dengan ribuan akar-akarnya yang menyelimuti gundukan
tanah makam, menjadi saksi bisu sejarah dari keberadaan makam sang raja
yang terkenal ini.
Menurut cerita dari sang juru kunci air dalam Guci tersebut
tidak pernah kering di musim kemarau dan sebaliknya jika di musim
penghujan, guci tersebut tidak berair. Menurutnya juga air guci
dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Jika beruntung,
pengunjung dapat meminta air guci kepada sang juru kunci.
Menurut sejarahnya, guci tersebut sebenarnya lebih tua dari makam
sang raja. Konon leluhur raja Sangia Nibandera yang belum memeluk
islam yaitu Sangia Nilulo, jasadnya di semayamkan dalam arwah
tersebut setelah melewati suatu proses penguburan yang disebut duni.
“Jadi Islam memang membawa rahmat bagi kita masayarakat Mekongga,
karena seandainya raja Sangia Nibandera kita tidak memeluk Islam,
niscaya kita tidak akan menikmati situs makam yang bersejarah ini,
karena raja-raja sebelumnya tidak dikebumikan, namun di duni, itulah
mengapa tidak ditemukannya makam-makam dari beberapa raja
Mekongga sebelumnya.”Kata Nursaenab.
Dari penuturan juru kunci, makam ini ramai di kunjungi
disaat hari-hari besar agama Isalm. Tak sedikit dari mereka sengaja
datang untuk berziarah sambil berdoa agar hajatannya dikabulkan. “Biasa
ramai saat bulan puasa dan lebaran, ada juga yang sengaja datang
untuk sekedar berziarah, bahkan ada yang datang supaya hajatannya
terkabul, contohnya para calon gubernur atau juga calon bupati ,” Ujar
Jabar, sang juru kunci yang sudah bertugas sejak 2008 lalu.
Usai berkeliling di kompleks makam, seharian pengunjung
dapat bersantai dengan duduk di bangku-bangku panjang yang tersedia
di beberapa sudut lokasi situs. Terkadang dibeberapa waktu,
pengunjung juga dapat menikmati sajian beberapa tarian tradisional yang
khas dari daerah ini yang dipentaskan oleh kelompok sanggar tari
setempat di atas panggung mini yang ada dalam lokasi situs.(M.Sf/www.kolakanews.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar